Lagu-lagu Saik Beeng dari Blantika Anak Bangsa Sepanjang 2016 versi Adit

Posted under BLOG on : 13/10/2016 08:09:22











Di sela-sela kegiatan bekerja ataupun saat menggambar komik, terkadang menyempatkan diri untuk mencari nada-nada segar nan saik yang bermunculan di permukaan internet adalah hal yang menyenangkan. Boleh jadi karena haus akan irama-irama mengkini yang segar-segar, referensi atau hanya sekadar penyeimbang kejenuhan sebagai pembangun mood.  

Cukup banyak rilisan segar di tahun 2016 ini. Entah itu berupa single maupun EP/ Album. Daftar di bawah ini adalah beberapa di antaranya. Masih banyak sebenarnya yang belum (sempat) dimasukkan di sini. Nomor urut di bawah jelas bukan sebagai ranking-rangkingan, karena kesemuanya memiliki kekhasannnya masing-masing. Sembilan buah saja dulu yang kuasa untuk ditulis, lainnya mungkin boleh ditambahkan.


1. Rekah - Untuk Seorang Gadis yang Selalu Memakai Malam (single)

Saat Abbath mendamba habis-habisan sang gebetan dan mencoba menulis sedikit puisi dalam buku diarinya di tengah Alas Roban. Lalu anak-anak Blood Brothers menghampiri tuk memberi sedikit puk-puk.   

Perpaduan lintas genre yang ciamik dengan satu benang merah: galau. Campur baur gaya bermusik memang selalu mengundang daya tarik untuk didengar. Rekah benar-benar berhasil memadukan genre yang mungkin tidak terlintas di pikiran bagaimana hasil akhirnya. Skramz, punk, post-hardcore, mathcore dan black metal diramu dengan demikian keren. Ditambah dengan penulisan lirik bergaya puitik yang ciamik. Rekah memang asik dinikmati di saat resah.     

  • Genre: Emo/ Black-Metal
  • Style: Skramz/ Punk/ Post-Hardcore/ Post-BlackMetal

 


2. CVX – IMSONIA (album SYSTEMATIC VOYEURISM)

Robocop IX jalan-jalan pergi belanja dengan future bajaj ke Planet Senen di tahun 2048? Kraftwerk buka restoran padang di Mars? Atau K.I.T.T. sedang test drive di jalan raya Condet yang lengang?  Banyak gambar di kepala saya yang bermunculan setelah mendengar track yang satu ini. Bisa saja kamu menemukan adegan lainnya yang sesuai, yang jelas track yang satu ini memang gila.    

Sebenarnya satu album rilisan CVX ini menyenangkan semua buat saya. Eksplorasi pemilihan nadanya mantab  dan hasil produksinya matang sekali. Selipan-selipan kecil dari pengaruh retro-synth 80an juga berhasil digabungkannya dengan asik. CVX buat saya adalah salah satu pertanda bagus dari sekian banyak gerakan segar yang sedang bermunculan dari scene musik elektronik lokal.

  • Genre: Electronic Body Music
  • Style: Post-Industrial/ Techno/ Electropunk/ House/ Synthwave



3. Merah Berdarah – Dunia, Di Persimpangan (EP Dunia, Di Persimpangan)

Rusuh elektronis, kusut di antara kabel-kabel PLN bertegangan tinggi yang saling bersengkarut, sambil berdansa tentunya.  

Boleh saya bilang di lokal masih jarang sekali yang mau eksplorasi jenis musik elektronik ekstrim seperti ini. Setelah single sebelumnya yang dirilis bernuansakan noise/ power electronics, dalam track ini gaya digital hardcore/ industrial rock pun diusung. Aduh, mantabnya.    

  • Genre: Digital Hardcore
  • Style: Industrial Rock/ Gabber/ Industrial Hardcore/ Noise




4. Joe Million – Katamorgana (album Vulgar)

Eye of The Tiger tak harus menjadi penyerta latihan rutin Rocky Balboa untuk bersiap menghajar Clubber Lang. Dari Papua, irama dari Survivor ini dengan mantap digunakannya untuk menyalak dan membentak.

Jarang sekali rilisan (hardcore) hiphop lokal kritis/politis yang bagus sejauh ini menurut pengamatan radar saya. Biasanya kebanyakan sepertinya hanya mengekor kesuksesan Homicide/ Morgue Vanguard kalau tidak boleh dibilang “rip-off” dari segi orisinalitas. 

Namun Joe Million sepertinya adalah salah satu atau mungkin berada dalam posisi depan dari jumlah yang jarang tersebut. Orisinalitasnya cukup kentara dalam albumnya, Vulgar. Terlebih dengan penggunaan selipan diksi-diksi dan dialek khas Papua dalam setiap materinya membuat track ini (dan lainnya) cukup terasa segar dan menghantam.

  • Genre: Hip-Hop/ Rap
  • Style: Hardcore Hip-Hop/ Political Hip-Hop/ Experimental Hip Hop

           


5. Terapi Urine – Om Telolet Om (single)

Entah mana yang terlebih dahulu merilis selain mereka, iMeyMey dengan nuansa funky kota/ house-kotanya, atau Iga Calia dengan pop dangdut/jandhutnya yang mengusung dengan judul yang sama dalam hari  yang sama. Napalm Death pasti bangga.

Unit grindcore flamboyan dari kota kembang Bandung ini memang selalu tampil trendi dan mengkini.  Dengan cukup gercep turut menebarkan kebahagiaan “Om Telolet Om” dari zona extreme-music lokal di tengah gelombang trennya yang  mendunia di akhir tahun ini.  Singkat, padat, menghibur, girangnya bocah-bocah pantura dan senyum mengkilat sopir bus antar-kota. 

  • Genre: Grindcore/ Punk
  • Style:   Comedy-Grindcore


6. Rich Chigga – Dat $tick (single)

Tas pinggang mas-mas pasar bawah perut buat nyimpen recehan itu keren, asli keren.

Tahu anak ini justru dari viral videonya Ghostface Killah. Begitu lihat videonya harus diakui memang keren. Terlebih untuk anak umur 17 tahun. Dari flow, beat-nya yang cukup dope, sampai ke videonya juga asik. Dari anak ini scene trap lokal bahkan internasional menjadi bertambah warna.   

  • Genre: Hip-Hop
  • Style:   Trap Music/Trap Rap   


7. Christabel Annora - Rindu Itu Keras Kepala. ft Iksan Skuter (album Talking Days).

Adem abis. Mendadak hujan rintik-rintik. Bawaannya mau bikin puisi melulu trus dibacain di depan indomaret.   

Selalu suka dengan female singer berpiano. Selain lagunya yang  langsung enak, track yang sudah rilis versi videonya ini liriknya pun puitik. Tidak bisa bilang tidak bungah dengan karya yang satu ini.   

  • Genre: Pop/ Folk/ Alternative
  • Style:   Adult Contemporary/ Sentimental Ballad/ Easy-Listening


8. Dialita – Taman Bunga Plantungan (album Dunia Milik Kita)

Satu kata: Keren banget (dua kata, ya?).

Maunya sih bisa semakin banyak karya-karya seperti ini. Entah berkembang dari segi konsepnya yang cukup fenomenal (lebih jelasnya bisa di baca (dan diunduh) di sini) atau dari sisi musik keroncongnya yang dapat jadi inspirasi untuk membuat proyekan "band" dengan genre lanjutan.  

  • Genre: Keroncong
  • Style: Keroncong Langgam/ Keroncong Modern



9. Mas Parano Sayang – Njajah Ati (single)

Jika Death in June tetiba merubah haluan genrenya menjadi campursari, atau Peter Steele ternyata pernah berkolaborasi diam-diam dengan Didi Kempot, atau Rick Astley dengan bermodalkan sebuah arranger keyboard ternyata piawai meracik nada-nada bernuansa dangdut.

Jujur saja, sudah lama sekali saya mendambakan sebuah rilisan bernuansa dangdut dalam scene musik lokal. Datangnya single ini tentu saja membuat saya mengharu-biru.  Akhirnya!

Mendengar lagu ini langsung terlintas di pikiran karya emas Didi Kempot seperti Cintaku Sekonyong-Konyong Koder, Cidro, dan sejenisnya. Isi lagunya sendiri seperti ingin memberikan sebuah homage kepada gaya bertutur Didi Kempot namun dibawakan dengan gaya pergaulan mengkini. Tentang seorang lelaki yang sedang melakukan pendekatan terhadap gadis yang ditaksirnya. Dengan cerita yang berakhir dengan drama yang tak terduga. Amboi.

  • Genre: Dangdut
  • Style: Campursari/ Pop Jawa/ Melancholicdut/ Electronic Dangdut Music/ Neofolk